Jumat, 20 Oktober 2023

Ketulusan Hati Nabi Muhammad saw

 Semua orang pasti pernah merasakan sakit hati, baik karena ucapan maupun perbuatan yang diterima dari orang lain. Namun tidak semua orang sanggup melewati itu dengan baik. Ada yang memilih membalasnya, menyimpan dendam, pun tidak sedikit yang berlapang dada dan memilih memaafkannya.

Kehidupan Rasulullah sangat banyak cobaan. Mulai hinaan, celaan, hingga penyiksaan. Akan tetapi, Rasulullah tidak membalas semua itu, beliau sangat sabar menghadapi cobaan itu dan terus berdakwah demi menyelamatkan umat manusia dari kesesatan.

Ketika kita disakiti mungkin kita akan langsung membeci orang yang telah menyakiti kita tapi itu tidak berlaku untuk Rasulullah. Rasulullah tidak pernah membenci orang yang telah menyakitinya, justru Rasulullah mendoakannya. Bisa dijadikan pelajaran bagi kita bagaimana Rasulullah bersikap terhadap orang yang telah menyakitinnya, yaitu dengan cara memaafkan dan mendoakannya.

Nabi Muhammad merupakan suri tauladan bagi kita semua sebagaimana yang telah dijeaskan di dalam al-Qur’an surat al-Ahzab ayat 21;

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الأخر وذكرالله كثرا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) rasulullah itu suri tauadan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”

Kisah Nabi dengan pengemis buta yahudi bisa dijadikan pelajaran untuk kita bagaimana caranya bersikap kepada orang yang telah menyakiti kita tanpa harus membalasnya. Kisah ini dimuat dalam beberapa kitab turats. Di sana diceritakan bagaimana pengemis buta yahudi terus menjelek-jelekan Nabi, namun Nabi tak pernah membalasnya sama sekali, melainkan Nabi terus memberinya makan setiap hari.

Di sudut pasar Madinah al-Munawarah ada seorang pengemis buta yang beragama Yahudi, hari demi hari tidak ada yang dia lakukan kecuali hanya menjelek-jelekan Nabi Muammad Saw. setiap bertemu orang yang melewatinya dia selalu mengatakan agar jangan pernah mengikuti Nabi karena Nabi pembohong.

“Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya” ucapan si pengemis buta kepada orang-orang yang lewat, dan terus melakukannya setiap hari.

Tanpa dia sadari, setiap pagi Nabi selalu mendatanginya untuk memerikan makan si pengemis buta itu. Pengemis buta itu terus menjelek-jelekan Nabi tapi dia tidak tahu kalau yang sedang memberikan makanan adalah Nabi itu sendiri. Nabi tidak menanggapi ucapan pengemis buta itu, beliau terus menyuapi si pengemis buta dengan lembut sampai si pengemis buta itu merasa cukup.

Seperti biasa setiap pagi Nabi mendatangi pengemis buta itu dan menyaupinya lagi, si pengemis buta terus saja menjelek-jelekan Nabi. Pengemis buta itu sempat mengatakan “Jikalau Muhammad itu seperti engkau yang berlaku baik, pasti aku akan mengikutinya”, dia tidak tau jika yang di hadapannya adalah Nabi itu sendiri.

Hingga akhirnya Nabi wafat dan tidak pernah mengunjunginya lagi, si pengemis buta itu sangat merindukannya. Sudah beberapa hari orang yang selalu memberinya makan tidak pernah mengunjunginya lagi dan ia selalu bertanya kepada orang yang lewat, namun tidak ada yang memberitahunya.

Suatu hari sepeninggal Rasulullah, Abu Bakar r.a berkunjung ke rumah anaknya yaitu Siti Aisyah r.a. Beliau bertanya kepada Aisyah tetang amalan rasulullah, adakah amalan yang biasa rasulullah lakukan tapi belum beliau lakukan. Aisyah pun memberitahu ayahnya bahwa setiap pagi rasulullah selalu bekunjung ke sudut pasar dan memberi makan pengemis buta di sana.

Abu bakar berangkat ke pasar untuk memberi makan pengemis buta itu sebagaimana Nabi selalu memberinya makan, Abu Bakar menyuapinya roti, dan si pengemis buta itu berkata “kemana saja engkau wahai sahabatku, aku begitu merindukanmu” tapi Abu Bakar tidak menjawabnya dan terus menyuapinya.

Pada saat Abu Bakar menyuapinya, si pengemis buta itu mulai menjelek-jelekan Nabi lagi yang membuat Abu Bakar marah dan menyuapinya dengan kasar. Si pengemis buta itu pun marah atas perbuatan Abu Bakar, pengemis buta itu menanyakan siapa yang menyuapinya itu, karena orang yang selalu menyuapinya itu adalah orang yang lembut serta selalu menghaluskan rotinya terlebih dahulu kemudian di suapkan.

Abu Bakar tak kuasa menahan air matanya, beliau menangis sambil berkata kepada si pengemis buta itu “aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu, aku adalah salah satu sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada lagi. Dia adalah Muhammad Saw”. Si pengemis buta sangat tekejut mengetahui selama ini yang memberinya makan ternyata orang yang selalu dia jelekkan.

Pengemis buta itu menangis sejadi-jadinya mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Dia merasa sangat bersalah telah menjelek-jelekkan Nabi di hadapannya tapi Nabi sendiri tidak pernah memearahinya dan selalu mendatanginya, pada akhirnya pengemis buta itu bersyahadat dan masuk Islam. 

Kisah serupa mengenai kelembutan hati Nabi Saw tentang seorang wanita tua yang dibantu oleh Nabi membawakan barang-barangnya. Kisahnya bermula saat ada seorang wanita tua lewat ditengah gurun dengan barang bawaan yang cukup banyak, dan ada seorang pria tampan yang menawarkan bantuan yaitu Nabi Muhammad Saw., pengemis tua itu dengan senang hati menerima bantuan beliau.

Di tengah perjalanan wanita tua itu merasa senang atas bantuan lalaki tersebut. Namun, wanita itu juga sebagaimana pengemis buta, dia menjelek-jelakan Nabi, tapi Nabi hanya menanggapinya dengan senyuman, terus-menerus wanita tua itu menjelek-jelekan Nabi dan hanya membalasnya dengan senyuman.

Hingga akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, tak lupa wanita tua itu mengucapkan terima kasih kepada lelaki tersebut yang tidak diketahuianya kalau lelaki tersebut adalah Nabi Saw dan nabi lagi-lagi membalasnya dengan senyuman. Ketika Nabi hendak pergi wanita tua itu bertanya kepada Nabi siapa namanya, dan nabi menjawabnya dengan senyuman sambil berkata nama saya Muhammad. Alangkah terkejutnya wanita tua itu mendengar jawaban Nabi, dan tidak berlangsung lama wanita tua itu segera mengucapkan dua kalimat syahadat. 

     Kisah yang sangat mengharukan, bagaimana kelembutan hati Nabi sangat besar, beliau tidak pernah memandang siapa yang telah menyakitinya, Nabi selalu memaafkan dan mendoakanya. Akibat kebaikannya banyak orang-orang yang mengikutinya menuju jalan yang benar dan penuh cahaya, semoga kita bisa mengikuti sikap Rasulullah Saw terhadap orang yang telah menyakiti kita.



Referensi

Astuty, Tri. 2015. Rangkuman Ilmu Pengetahuan Agama Islam Lengkap, Jakarta: Vicosta Publishing.

Fatoni, Ahmad. 2019.  Juru Dakwah yang Cerdas dan Mencerdaskan, Jakarta: Prenadamedia Group.

Al-Mubarokfuri, Shafiyyaturahman. 1976. Ar-Rahiq al-Makhtum, India: Jami’ah Salafiyah

Adam, Brian. 2020. Seni Memaafkan, Jakarta: Bright Publisher.

Lings, Martin. 2010. Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

At-Tirmidzi, Imam. 2016. Mengenal Pribadi Agung Nabi Muhammad, Jakarta; Aqwam Medika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketulusan Hati Nabi Muhammad saw

 Semua orang pasti pernah merasakan sakit hati, baik karena ucapan maupun perbuatan yang diterima dari orang lain. Namun tidak semua orang s...